Erau Adat Tempong Tawar merupakan budaya Kutau Kartanegara, Kalimantan Timur yang sudah menjadi agenda nasional yang dilaksanakan setiap tahun di Kutai Kartanegara. Erau Adat Tempong Tawar 2009 telah berakhir 03 Agustus 2009 yang lalu.
Sejumlah catatan akhir menjadi inspirasi terdepan dimana sejumlah kejadian menarik menjadi catatan kami.(Rulli Maulana Wartawan LACAK Kukar).
Erau berasal dari kata Eroh yang berarti Keramaian dan Erau ini sudah menjadi jadwal yang masuk dalam agenda Budaya Nasional yang patut untuk selalu dilaksanakan di setiap tahunnya pada tanggal yang telah ditetapkan yaitu 28 September bertepatan dengan Ulang Tahun Kota Tenggarong seperti datun-tahun terdahulu namun kenyataannya sejak beberapa tahun terakhir ini jadwal tersebut selalu berubah-ubah, tahun lalu dilaksanakan pada bulan desember namun tahun ini berubah menjadi tanggal 26 Juli s/d 3 Agustus. Permasalahan ini sudah menjadi rahasia umum hingga salah satu anggota DPRD Kukar sendiri berkomentar kalau Erau Adat sekarang ini sudah tidak Konsisten.
Kedua, beberapa minggu sebelum Erau Adat Tempong Tawar 2009 di gelar, musibah kebakaran terjadi di salah satu desa yang masuk dalam wilayah Kabupaten Kutai kartanega yaitu Desa Teratak Kecamatan Muara Kaman Kab. Kutai kartanegara.
Ketiga, bangunan Stadion Kudungga(Madya Tenggarong) masih belum rampung pengerjaannya dan belum dilaksanakan serah terima antar Kontaktor dengan pihak Pemerintah namun sudah digunakan sebagai tempat pembukaan Erau Adat Tempong Tawar 2009.
Keempat, pada saat pembukaan Erau Adat Tempong Tawar 2009 tokoh utama yang hadir hanya Awang Faruk Ishak (Gubernur Kalimantan Timur), H. Sjachruddin (Pj. Bupati Kukar), H. Adji. Pangeran Praboe(Sultan Salehuddin II) hanya dihadiri oleh Adji A. M. Arifin Praboe, M.Si (Putra Mahkota) sedangkan Jero Wacik(Mentri Pariwisata dan Budaya RI)hanya dihadiri oleh Staf Ahlinya.
Berbagai alasan yang terdengar di masyarakat mulai dari alasan kesehatan, kesibukan hingga adanya cerita miring terkait ketidak harmonisan dalam kesultanan Kutai.
Kelima, 30 menit sebelum akan di gelarnya Upacara Adat Tolak Bala yang di persembahkan oleh Suku Dayak Kenyah pada hari selasa(28/7) kembali terjadi kebakaran di Perum Guru Jln. Stadion Timur I dan II.
Keenam, Banyak Peserta yang mengikuti Erau Adat Tempong Tawar 2009 mengeluh karena tidak disediakan Homestay dan guide selama Erau Adat Tempong Tawar 2009. salah satunya adalah peserta dari Kec. Muara Kaman yang tidak diperkenankan ikut Olah Raga Tradisional.
Ketujuh, hari penutupan proses adat yaitu mengulur Naga diiringi dengan Berlimbur(Siram-siraman Air) terjadi banyak sekali pelecehan Sexual yaitu rerempuan yang lewat di jalan di Siram dan di raba payu daranya. Tidak sedikit yang pingsan, kelahi bahkan kecelakaan.
Konon ceritanya berlimbur hanya diperkenankan di lingkungan keraton dan sebelum di siram terlebih dahulu di tanya apakah ada penyakit atau siapkah untuk di siram.
Namun sekarang tampaknya Erau Adat sudah menyimpang dari makna sebenarnya.
Masyarakat asli Kutai Kartanegara banyak yang kecewa dengan diselenggarakannya budaya akbar Erau Tempong Tawar. Mulai dari Upacara Adat Earu, tatanannya, hingga berakhirnya Erau.
Karena banyak yang tidak sesuai dengan Erau tahun-tahun sebelumnya yang lebih semarak dan mengandung relegi.
Hal ini merupakan pelajaran bagi Tokoh Masyarakat Kukar dan Pejabatnya agar kedepan Erau akan lebih sempurna dan bermakna, bukan hanya sekedar acara seremonial belaka.(rul)
»» read more
