Kukar, LACAK »» read more
Persoalan Tenaga Tidak Tetap Daerah (T3D) Kutai Kartanegara (Kukar), rupanya belum tuntas sepenuhnya. Setidaknya 2.373 tenaga honor masih belum menerima honor atau gaji. Dengan rincian 1.971 orang berada di 18 kecamatan dan sisanya sebanyak 402 tersebar di 27 dinas, badan dan kantor di lingkungan Pemkab.
Hal tersebut terungkap dalam hearing antara DPRD dengan Forum Tenaga Honor Kutai Kartanegara (FTHKK) di ruang Panmus, Selasa (21/7). Rapat dengar pendapat yang di pimpin Wakil Ketua Ir HM Yusuf AS tersebut juga dihadiri Kepala BKD, H Chairil Anwar SH. M.Hum. “Data yang kami sampaikan ini valid. Karena didasarkan pada absensi dan memang ada orangnya. Forum tidak akan memperjuangkan orang yang tak bekerja,” kata Ketua FTHKK, Basuki Unita.
Menurutnya meminta kepada DPRD agar bisa memfasilitasi tuntutan dari 2.373 T3D yang selama ini tak menerima gaji atau honor. Padahal, selama ini mereka aktif bekerja yang dibuktikan dengan absensi kehadiran dari tempat bekerja masing-masing.
Hal senada diungkapkan Ketua FTHKK Cabang Kecamatan Tabang, Faria Fadilah yang menyatakan, kebijakan Pemkab yang hanya membayar gaji T3D berdasarkan SK kolektif, telah menimbulkan sekat dengan T3D lainnya yang di luar SK kolektif. “Sekarang ini seakan di buat sekat antara T3D yang bergaji dengan yang tak menerima gaji,” katanya.
Kepala BKD, H Chairil Anwar mengatakan Pemkab hanya membayar T3D yang namanya tercantum dalam SK kolektif. “Mereka yang masuk dalam SK Kolektif didasarkan pada pembayaran gaji Desember 2008,” ujarnya.
Menanggapi tuntutan T3D yang menginginkan agar Pemkab segera membayarkan gaji mereka yang tak kunjung dibayar dengan mempertimbangkan aspek kemanusiaan. Chairil menyatakan tak bisa mengambil keputusan. “Saya akan laporkan pada pimpinan karena saya masih ada atasan,” katanya.
Ketua Komisi III, Abubakar Has berharap Pj Bupati dapat membicarakannya dengan Menteri Keuangan, agar persoalan T3D ini dapat diselesaikan dengan baik dan tuntas. “Bagaimanapun mereka ini adalah warga kita sendiri. Saya hanya bisa sarankan agar persoalan ini dibicarakan dengan Pj Bupati dan Menteri Keuangan,” katanya.
Sementara itu, Yusuf As mengaku sangat prihatin dan sangat memahami permasalahan yang dihadapi T3D yang tak menerima gaji. “Kalau memang ada ketentuan yang memungkinkan mereka bisa dibayar, Pemkab harus mempertimbangkannya,” kata Yusuf.
Sumber : Awang Faisal
2.373 T3D Tak Terima Gaji
Ditikam 47 Kali, PSK Dibantai
Kukar, LACAK »» read more
Hanya dalam waktu dua kali 24 jam, Polsek Muara Jawa berhasil mengungkap kasus pembunuhan PSK lokalisasi Loa Hui, Samarinda bernama Sri Wahyuni alias Selvi (29). Sebelumnya, wanita asal Pulau Jawa ini ditemukan tewas penuh luka tusukan pada Rabu (15/7) lalu di sebuah hutan di Desa Muara Kembang Kecamatan Muara Jawa, Kutai Kartanegara (Kukar).
Pelaku pembunuhan yang tergolong sadis ini dibekuk sekitar pukul 14.00 Wita, Jumat (17/7) siang. Sang pelaku yang didentifikasi bernama Ahmad Said (22) adalah warga Handil Baru RT 09 Kecamatan Samboja, Kukar. Ia menghujani korban dengan 74 tikaman dengan menggunakan sebilah pisau yang dibawanya.
Menurut Kapolres Kukar AKBP Dono Indarto didampingi Kapolsek Muara Jawa, AKP Danang AS, pelaku dibekuk setelah petugas ekstra keras mengumpulkan bukti-bukti kuat yang mengaitkannya dengan kematian Selvi. “Tersangka kami tangkap di kediamannya Jumat siang lalu, setelah kami mendapatkan sejumlah saksi dan bukti kuat, terkait pembunuhan PSK itu,” ungkap Dono.
Memang, kata Danang yang memimpin langsung pengejaran pelaku, bukan hal mudah untuk mengungkap kasus ini. Pasalnya, di tubuh korban tidak ditemukan identitas yang memudahkan petugas.
Petugas harus menyebarkan foto-foto korban untuk mengidentifikasinya serta orang-orang yang terakhir bersama-sama korban sebelum ditemukan tewas. “Dari sini, kami mendapat info ada warga yang melihat korban bersama-sama seorang lelaki di Muara Jawa,” tukasnya.
Terungkap, kalau pembunuhan Selvi melalui serangkaian perpindahan dari satu lelaki ke lelaki lain yang berujung pada pelaku. Pria pertama itu mengakui bahwa kedatangan Selvi ke Muara Jawa memang untuk sebuah ‘transaksi’. Namun, setelah bertemu, pria tersebut tidak berminat. “Ia pun menyerahkan pada seorang temannya untuk mengantar Selvi ke Samarinda Seberang,” tukasnya.
Meski sudah terlanjur ‘main’, ternyata pria ini juga tak bisa mengantar Selvi. Ia pun menyerahkan pada Ahmad Said, pria yang kemudian membunuh Selvi. Said, awalnya menyanggupi untuk mengantar Selvi. Namun, sebelum pulang, ia membawa perempuan ini ke sebuah penginapan di Muara Jawa. Di penginapan itu, Said ikut ‘mencicipi’ tubuh korban. Setelah melakukan hubungan badan, Selvi kemudian dibonceng motor Said menuju ke Samarinda Seberang.
Dalam perjalanan menuju Loa Hui, korban memang sering kali menanyakan pembayaran tarif atas pelayanannya kepada pelaku. Rupanya, Said kurang senang dengan ‘kecerewetan’ korban. Di tepi hutan di bilangan Muara Kembang, tersangka menghentikan sepeda motornya. Dia lalu meminta korban untuk melihat ban belakang motor yang katanya kempes.
Saat mempelototi ban motor, korban tak menyangka Said sudah mengambil sebilah pisau dapur yang disimpan di saku celana panjangnya. “Pisau itu ditusukkan ke tubuh korban. Tusukannya memang tidak beraturan. Di tubuh hingga leher korban. Pelaku sendiri sementara ini mengaku jengkel, karena ditagih terus sama korban supaya membayar,” papar Danang lagi.
Dari hasil autopsi ahli forensik RSUD AW Sjachranie Samarinda, korban mendapat 74 tikaman. “Bahkan bagian leher korban itu kan hampir terputus. Mayat Selvi memang dibuang pelaku ke parit di hutan Muara Kembang itu. Akibatnya, kami harus bekerja keras melakukan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara) maupun mencari BB (barang bukti),” ujarnya. sembari menambah-kan, Said telah resmi ditahan.
Selama dipimpin Danang, Polsek Muara Jawa berhasil mengungkap beberapa kasus pembunuhan. Sebelumnya, 21 Oktober 2008 lalu terjadi pembunuhan di Jl Handil Samarinda RT 13 MUara Kembang. Korbannya Nahding alias Udin (39), beralamat di Jalur Mulyo RT 12 Muara Kembang. Polsek Muara Jawa kemudian berhasil meringkus pelakunya, Supriadi alias Adi (33), warga Jl Soekarno RT 13 Muara Jawa Ulu. Kemudian, pembunuhan terjadi 2 Juli 2009 di Jl Silambanan RT 17 (Kampung Tebe) Muara Jawa Ulu. Sang korban adalah Suardi (27), tinggal di Jl Soekarno RT 17 Muara Jawa Ulu. Saat itu polisi juga berhasil menangkap si pelaku, yakni Kamil (29), warga Jl Tahir RT 11 Kelurahan Muara Jawa Pesisir.
Sumber : Awang Faisal
Gunakan ID Card, Wartawan Bisa Akses ke MC Erau
Kukar, LACAK »» read more
Bagian Humas dan Protokol Setkab Kukar menyiapkan ID Card (tanda pengenal) bagi wartawan dan reporter yang akan meliput pelaksanaan pesta budaya adat Erau Tempong Tawar 2009.
“Kepada wartawan yana akan meliput kegiatan Erau ini, kami menyediakan ID Card sebagai tanda pengenal, sehingga wartawan mudah dikenali saat melakukan tugas jurnalistiknya,” ujar Kabag Humas dan Protokol Setkab Kukar, Sri Wahyuni, Kamis (16/7) kemarin.
Dikatakannya, dengan ID Card tersebut wartawan bisa mengakses atau menempati area khusus pers pada kegiatan-kegiatan penting selama pelaksanaan Erau nanti, serta bisa mengakses ke Media Center (MC) Erau 2009 di Stadion Madya Tenggarong Seberang untuk menggunakan fasilitas yang telah disediakan seperti komputer dengan akses internet mulai pukul 09.00 hingga 17.30 Wita selama berlangsungnya Erau.
Ia mengimbau kepada wartawan yang ingin mendapatkan ID Card agar mendaftarkan diri ke Sub Bagian Pemberitaan Bagian Humas dan Protokol Setkab Kukar, mulai hari ini pada jam kerja.
Sumber : Awang Faisal
